Harga Cabai Naik, Harga Diri Turun

Siapa yang tidak geram akhir-akhir ini semua harga naik. Mulai dari cabai rawit yang sebelumnya 28ribu menjadi 82ribu. Biaya pengurusan pajak kendaraan juga naik bahkan sampai 3 kali lipat. Apalagi bahan bakar minyak yang secara ‘sembunyi-sembunyi’ menaikan diri 300 rupiah per liternya. Banyak yang mengeluhkannya terutama rakyat kecil yang sejatinya konsumen terbesar di negeri ini.

Siapa yang mau disalahkan mengatasi ini semua? Lihatlah contoh naiknya tarif pajak kendaraan bermotor. Menteri Keuangan mengatakan kalau ini adalah inisiatif Polri, tetapi pihak kepolisian juga menampik bahwa dia yang menaikan, malah akhirnya menudung bahwa yang menaikan tarif sebenarnya adalah dari pihak Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sayangnya, Darmin Nasution meluruskan jika ini adalah arahan Presiden Joko Widodo yang disampaikan sebelum adanya berita kenaikan biaya STKNK dan BPKB.

Dan lagi, harga cabai melonjak tajam, Pemerintah menuding bahwa penyebabnya adalah Cuaca. Jadi sebenarnya tidak ada yang salah, tetapi sesuai hukum alam kejadian seperti ini harus ada yang disalahkan. Bukannya ada sebab ada akibat? Tidak harus si pembuat kebijakan, karena biasanya kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan peraturan yang di tulis, kemudian di print, kemudian di jilid, di scan di publikasikan.

Cobalah kita merenung, andai saja ada orang yang bertanggung jawab atau mengklaim semua fenemona ini, pasti dia akan disanjung dan dimuliakan layaknya pahlawan yang gugur di medan pertempuran. Misalnya Polri mengakui bahwa kenaikan tarif pengurusan STNK adalah keinginan Dia, pasti semua orang akan adem ayem menerima kenyataan, kalau ada yang demo besar besaran ya karena peraturan abru sungguh mencekik. Kalau saja Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan khilaf atas kejadian ini pasti orang-orang bisa menerima, kalau ada yang protes ya itu dianggap sebagai bentuk penagihan atas pertanggungjawabanya sebagai menteri.

Terlebih solusi yang diberikan sungguh diluar keinginan masyarakat, sebut saja Menteri Perdagangan, Enggartisto yang menganjurkan masyarakat menanam cabai sendiri sebagai solusi untuk mengatasi naiknya harga cabai agar masyarakat tetap bisa mengkonsumsinya dan tidak terpengaruh dengan kenaikan harga. Coba di telaah dengan ilmi pertaniannya, berapa lama cabai dari proses penanaman hingga panen? Tidak bisa sesingkat itu, sekarang harga naik, ketika cabai yang kita tanam panen? Berapa harga cabai dimasa mendatang? Yang rakyat butuhkan adalah solusi kongkret upaya pemerintah untuk menakan harga supaya kembali normal.

Akibatnya, beberapa pedagang di pasar pun melakukan tindakan yang seharusnya tidak dilakukannya. Kebanyakan mereka membeli cabai setengah matang dan setengah busuk. Komoditi ini dbeli karenaya harganya tidak terlalu mahal. Langkah seperti ini diambilnya karena pembeli ‘eceran’ tidak mau jika harganya mahal. Prinsip mereka yang penting dapat duit, entah produknya busuk atau belum matang yang penting dapat duit. Meskipun akhirnya mereka dianggap penjual barang ‘KW’ mereka tetap menerima kenyataan itu, yang penting dapur tetap ngebul.

Siapa lagi yang kena imbasnya? Penjual makanan atau pemilik warung makan, mereka juga mempertimbangkan naiknya harga cabai rawit karena ya setiap warung makan di Nusantara identik wajib ada makanan pedas dan harus sedia sambal. Miris memang, beberapa warung makan menuliskan pesan pada pengumuman di depan etalase menu “AMBIL SAMBAL SECUKUPNYA, HARGA CABAI NAIK” nantinya dikhawatirkan jika pelanggan menge-cap bahwa warung makan tersebut membatasi pengambilan sambal. Atau bahkan beberapa penjual menaikan harga makanannya, meskipun akhirnya pelanggan berkurang karena sudah dipikir kalau warung makan itu harganya mahal.

Ya, semuanya kena imbasnya, gara-garanya tidak ada yang mengklaim dan tanggung jawab atas kejadian ini. Pedagang kecil yang menanggung malu sebagai konsumen pengguna yang nantinya produknya di distribusikan ke konsumen dengan kualitas yang tidak lebih baik, yang harus menjual produk dengan kualitas rendah dan dicemooh, serta konsumen pun merasa di permainkan.

Harga Cabai Naik, Harga Diri Turun!!!

Gayeng News

Portal Berita Jawa Tengah | Mengabarkan dengan Sepenuh Hati | Menyajikan Informasi yang Independen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *