Perempuan Merokok: Gender Salah Sasaran

Dalam setiap pertemuan, entah itu forum rapat, diskusi ataupun sekedar nongkrong, penulis kerap disuguhi rokok, ditawari, atau lebih tepatnya dipaksa untuk merokok. Menolak untuk merokok dengan alasan kurang baik untuk kesehatan dan tidak bisa menghisap rokok, penulis selalu menolak berbagai tawaran tersebut. penulis merasaa, merokok dapat menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan pernafasan dan dampak lebih besarnya mengganggu kenyamanan karir dan aktivitas penulis.

Selama perempuan berfikir bahwa merokok mengganggu kesehatan, merusak sistem kekebaalan tubuh, maka selama itu pula perempuan akan berpikir berualang kali untuk menjadikan rokok sebagai sumber penghilang stress dalam diri. Perempuan memiliki sistem kekebalan tubuh yang berbeda dari laki-laki –atas dasar perempuan memiliki kewajiban biologis lebih dari laki-laki.

Merokok bukan satu-satunya cara untuk menunjukkan eksistensi sebagai perempuan yang sama dimata laki-laki menjadi perokok, bukan pula cata yang bijaksana untuk menegaskan makna kesetaraan di ruang publik maupun domestik. Pembelaan diri perempuan perokok yang mengatasnamakan gender, penulis anggap terlalu berlebihan. Gender hadir bukan untuk membuat perempuan menyamaratakan segala perilaku, namun untuk menyamaratakan hak dalam setiap kebutuhan akan kemajuan.

Gagalnya gerakan perempuan dalam mempertahankan posisi dalam setiap ranah politik, pendidikan, ekonomi dan kebijakan-kebijakan sosial adalah sebuah kemunduran peradaban. Untuk itulah gender hadir, sebagai penegas bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam setiap pengambilan keputusan, pembuatan aturan serta penempatan posisi strategis dalam berbagai bidang.

Gender hadir bukan untuk memenuhi tuntutan ‘aneh-aneh’ kaum perempuan,  -pun demikian bukan  berarti penulis  membenarkan bahwa perempuan perokok boleh dipandang sebelah mata dan sebagai komoditas pelanggar cita-cita terwujudnya  gender untuk perempuan berkemajuan. Namun, memilih menjadi perempuan yang aktif merokok adalah sebuah pilihan yang harus dipertimbangkan kemanfaatannya untuk kemajuan peran perempuan dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan sosial keagamaan.

Jika perempuan menggunakan gender hanya sebagai alat perdebatan antara boleh merokok-tidak boleh merokok, boleh mengangkat beban berat-tidak boleh mengangkat beban berat, bagi penulis ini adalah perdebatan yang riskan dan merisaukan.  Perdebatan seperti itu terjadi karena seorang perempuan gagal memahami esensi dan cita-cita besar lahirnya  gender  sebagai alat analisis. Perdebatan-perdebatan hal demikian justru semakin menjauhkan perempuan  dari cita-cita besar bangsa sebagai pemuda yang mampu meneruskan perjuangna dan estafet kepemimpinan. Ini berarti pelambatan proses menuju perempuan berkemajuan.

Selain untuk ‘memburu  kenikmatan’,  gender  hadir agar perempuan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan domestik dan publiknya. Salah satunya adalah, bahwa pembangunan di Negara kita belum mampu ramah terhadap  kehidupan perempuan. Pembangunan yang justeru membunuh sumber mata air, pembangunan yang justru banyak menebang tumbuhan obat. Air menjadi salah satu kebutuhan yang sama sekali tidak bisa dijauhkan dari perempuan mulai dari  aktivitas untuk mengkonsumsi sampai aktivitas membersihkan diri sebelum atau sesudah perempuan itu melahirkan. Ya, perempuan lebih membutuhkan banyak air dalam kehidupannya daripada laki-laki.

Kenyataan lain yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun yaitu sikap untuk bebas berpikir, bertindak dan bersikap. Mayoritas perempuan adalah ia yang mengutamakan kehidupan generasi berikutnya (anak-anaknya). Saat penulis menyatakan sikap penolakan atas aktivitas merokok seorang perempuan, argumen-argumen mulai muncul.  Menjadikan  kisah Rara Mendut  sebagai landasan pembelaan kaum perokok perempuan. Sebuah kisah yang dilakukan Rara Mendut untuk  menolak pinangan dari Tumenggung Wiraguna dengan rokok. Namun, bukankah zaman kita berbeda dengan zaman Rara Mendut?. Musuh kita bukan lagi tentang pemaksaan pernikahan, musuh kita adalah kebijakan yang tidak balance antara kebutuhan dasar perempuan dan laki-laki

Penulis sepakat bahwa rokok adalah bagian dari kekerasan terhadap perempuan. Bila pada zaman lampau kekerasan masih berbasis kepatuhan seperti halnya Kartini yang dilahirkan sebagai perempuan ningrat yang harus patuh pada adat dan tata krama perempuan bangsawan,  dominasi oleh pihak yang berkuasa dalam struktur Negara dan budaya (termasuk dalam rumah tangga), maka kini diperlengkap dengan  berbasis industrialisasi rokok yang mendukung perempuan sebagai komoditas.

Merokok dan tidak merokok adalah sebuah pilihan paling asasi.  Selama ini kita terjebak pada perdebatan-perdebatan paling asasi tadi. Sedangkan pesan dan cita-cita Kartini yang di titipkan dalam  Habis Gelap Terbitlah Terang  adalah perempuan harus keluar rumah untuk tampil ke ruang  publik  lalu memegang jabatan-jabatan politik dan meraih simpul-simpul kekuasaan.

Oleh: Fifit Arfays, Ketua KORP Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI) Komisariat UIN Walisongo Semarang & Domisioner Ketua HMJ Perbandingan Agama UIN Walisongo Semarang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *