Menemukan Orientasi Pembangunan Jawa Tengah

Akhir-akhir ini Jawa Tengah tengah disorot oleh berbagai pihak di tingkat nasional karena berbagai kebijakan pembangunan yang menuai konflik di tengah masyarakat. Sebut saja pembangunan pabrik semen di Rembang, PLTU di Batang, maupun pembangunan giant sea wall yang dilakukan untuk mengatasi masalah banjir akibat air laut pasang (rob).

Dalam teori, hanya ada dua pilihan Pemerintah Jawa tengah dalam menghadapi pembangunan, yakni; keberpihakan terhadap masyarakat atau penciptaan program pembangunan yang berorientasi sebagai mercusuar pembangunan, namun, belum tentu mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Yang pertama berarti menjadikan masyarakat bukan hanya sebagai objek pembangunan, namun juga sebagai subjek, dan meletakkan inisiatif lokal serta keanekaragaman sebagai nilai pentingnya. Sehingga masyarakat, bisa menikmati hasil pembangunan. Sedang yang kedua, ingin menjadikan konsepsi pembangunan di Jawa Tengah sebagai panduan pembangunan untuk daerah lain, berorientasi pada sistem dan hasil produksi, namun, menjadikan manusia sebagai objeknya.

Ada empat indikator yang setidaknya bisa digunakan untuk mengukur sukses atau tidaknya pembangunan sedang dilakukan di Jawa Tengah, yakni: pengentasan kemiskinan, income per kapita (PDRB), Human Development Indeks (HDI)/ Indeks Pembangunan Manusia (IPM), serta Rasio Gini. Namun, untuk merasakan kesuksesannya, harus melihat beberapa tahun yang akan datang. Artinya, pembangunan di Jawa tengah juga harus visioner, dilakukan untuk kemajuan yang berkelanjutan sesuai dengan prinsip-prinsip Sustainable Development Goals (SDGs).

Berbagai pembangunan nasional yang dilaksanakan di Jawa tengah juga harus benar-benar mensupport pembangunan di Jawa Tengah, tidak hanya menguntungkan negara, maupun koorporasi tertentu, namun juga menguntungkan masyarakatnya. Hal ini harus dilakukan mengingat tingginya angka kemiskinan di Jawa Tengah yang mencapai 13,32 persen. Jauh lebih tinggi dari angka kemiskinan nasional yang mencapai 11,13 persen.

Perlu diingat juga bahwa nilai rasio gini di Jawa Tengah masih cukup tinggi, berkisar di angka 0,38 dari skala 0-1. Jika angka 0 menunjukkan tidak ada kesenjangan sosial di masyarakat dan angka 1 menunjukkan bahwa kesenjangan sosial sudah mencapai titik maksimal, maka angka 0,38 sudah menunjukkan titik rawan kesenjangan di Jawa Tengah. Sehingga, masyarakat harus menjadi orientasi pembangunan untuk mengurangi nilai kesenjangan yang ada di tengah masyarakat Jawa Tengah.

Nilai rasio gini diatas juga bisa menjadi parameter yang menunjukkan bahwa pendapatan ekonomi Jawa Tengah yang diukur berdasarkan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) hanya dinikmati oleh sebagian golongan, yakni golongan menengah-atas yang memainkan peran lebih dominan dalam perekonomian dibanding masyarakat pada umumnya. Hal ini juga harus menjadi landasan bagi pengambil kebijakan di Jawa Tengah untuk melaksanakan pembangunan yang bersifat merata, tidak hanya terpusat pada satu wilayah yang akhirnya hanya menguntungkan wilayah tersebut.

Sebagai contoh, pembangunan pabrik semen di Rembang yang harus dikaji dari berbagai dimensi, akankah mampu menjadi katrol untuk meningkatkan perekonomian warga rembang dan Jawa Tengah sehingga berdampak positif terhadap nilai rasio gini, atau justru malah memberikan dampak negatif karena hanya bisa diakses oleh segelintir orang saja.

Idealnya, beginilah konsep pembangunan di Jawa Tengah dilaksanakan. Paradigma pembangunan yang hanya berorientasi pada kepentingan produksi, harus segera diganti dengan paradigma pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat secara luas dan merata. (adm)

*Gagasan ini dinarasikan berdasarkan hasil wawancara redaktur dengan Drs. H. Akhmad Muqowam, S.Sos, Ketua Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI

 

3 thoughts on “Menemukan Orientasi Pembangunan Jawa Tengah

  1. Mendengar konflik yang akan didirikanya PLTU tepatnya di daerah rembang yang msaih simpang siur pada masyarakat awam yang pasti kalau memang hal itu terjadi pasti masyakat rembang tidak akan segampang membalik telapak tangan karna hal itu sangat berpengaruh baik negatif maupun positif dalam masyarakat setempat tetapi harus juga memikirkan jangka panjang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *